Gegap gempita piala dunia membuat kita lupa kalau 12 juli adalah sebuah tanggal yang sakral buat para suporter, selain sebagai hari koperasi tanggal tersebut juga merupakan hari suporter indonesia. 10 tahun silam sekelompok perwakilan dari beberapa kelompok suporter berkumpul di sebuah kantor tabloid olahraga untuk menggagas penyatuan suporter lewat sebuah asosiasi, maka berdirilah ASSI asosiasi suporter seluruh indonesia, dan untuk menandai momentum bersejarah itu.Mengenang kembali 10 tahun yang lalu, ketika para kelompok suporter diwakili para pentolannya masing-masing. Sebut saja Yuli Sugiarto dan Muhammad Noer dari Aremania. Mayor Haristanto selaku Presiden Pasoepati. The Jak langsung dipimpin Ferry Indrasjarief dan Faisal, sementara Viking diwakili Eri Hendrian dan Nandang Leo Rukaran. Acara dipandu Sigit Nugroho, Koordinator Liputan Sepakbola Nasional BOLA. Berkumpul di palmerah dan menyeragamkan VISI untuk persatuan suporter. Sebuah harapan tentang hilangnya anarkisme suporter terbayang jelas. Namun sangat disayangkan ASSI hanya seumur jagung. Assi bubar karena adanya masalah internal.
10 tahun berlalu tentu ada sebuah angan da impian untuk kembali, mengenang memori semacam itu. Bukankah bangsa kita memang bangsa yang mengagung agungkan memori masala lalu (terutama soal olimpiade 50 dan piala dunia 38) di era serba digital, menyatukan beberapa suporter tentu bukan hal yang mudah, namun teringat peringatan 1 windu hari suporter di solo saya jadi berpikir, jangan jangan memang kita sebagai suporter yang tidak pernah di satukan.
Ketika peringatan 1 windu hari suporter bambang haryanto dan mayor haristanto (pasoepati melakukan semacam demo bisu di alun alun surakarta mereka membentangkan poster. Antara lain berbunyi, “Suporter Indonesia = Useful Idiots ?” sampai “Suporter Indonesia, Suporter Myopia.” Katakanlah itu gugatan kami, kepada diri kami sendiri. Karena kami selama ini menderita myopia, cadok, rabun dekat. Kita hanya mampu melihat hal-hal yang dekat, misalnya fanatisme terhadap klub berdasarkan primodialisme yang berlebihan, bahkan rela dibela dengan nyawa.
Lalu merasa dengan kecadokan semacam itu kita merasa cukup. Merasa sehat. Merasa dunia sepakbola kita sudah beres-beres saja. Kita tidak menyadari terancam hanya menjadi useful idiot, orang-orang yang bagai kerbau dicocok hidung, karena tidak berani memiliki fikiran atau pendirian yang mandiri. Konflik-konflik antarsuporter itu mungkin sengaja “dipelihara,” seperti halnya pelbagai konflik di tanah air, sehingga dapat memberikan keuntungan kepada sekelompok aktor intelektual tertentu.
“ ketika mata di balas mata maka dunia akan menjadi buta” Sebuah ungkapan yang menarik dari mahatma Gandi tepat untuk mencerminkan keberadaan suporter sepakbola di indonesia. Sebuah kata “Dendam” menjadi sebuah pelegalan untuk melakukan kerusuhan.
Saaat ini sering saya menjumpai anak kecil dengan mudahnya berucap, dibunuh saja, ataupun An**ing, selidik punya selidik ternyata itu mereka tiru dari televisi yang menayangkan live sepakbola indonesia, nyanyian rasis sering kali terdengar ketika ada sebuah tim bermain live, maka penghinaan terhadap tim lawan pun di keluar dan dengan nyanyian semacam itu tadi. Ada kalanya justru kata kata hujatan itu tidak di tujukan buat Tim lawan namun tim yang menjadi musuh bebuyutannya, padahal notabene mereka tidak main.
Namun saya tetap optimis,bahwa kedewasaan kita sebagai ketua ketua kelompok suporter membuat dendam dan aroma kebencian itu bisa diredakan, sigit ompong, dirigen pasoepati berkali kali menulis di status FB nya kalau anarkisme itu dimulai dari lagu yang menghujat, maka sejak beberapa waktu lalu sigit ompong sudah tidak mau mengajak untuk bernyanyi rasis. Hal yang sama juga dilakukan oleh jak mania, di website jakmania.org sempat terpampang sebuah gambar yang bertuliskan, kita punya banyak lagu bagus, kenapa memilih lagu rasis. Pendewasaan seperti itu sebenarnya yang dibutuhkan para pemimpin kelompok suporter. Selama ini selalu ada alasan grass root, oknum atau apapun ketika terjadi kerusuhan. Pengkambing hitaman itu adalah wujud ketidak becusan sang pemimpin untuk mengelola anak buah nya.
Bambang Haryanto pernah menulis : The fish always stinks from the head downwards. Pembusukan ikan selalu dimulai dari kepala dan baru lalu turun ke bawah. Demikian kata pepatah. Maju-mundurnya negeri ini, walau sesudah terjadi reshuffle pun, akan ditentukan dari atas, dari “kepala” alias dari Istana. Demikian pula maju-mundurnya persepakbolaan nasional kita akan ditentukan oleh “kabinet” baru Nurdin Halid dan PSSInya. Lalu siapakah yang memulai proses pembusukan perilaku suporter sepakbola kita ?
Soekarno pernah berucap, “Berikan Aku 10 Pemuda maka akan kuguncang dunia” Cuma 10 teman. Dan maukah kita menjadi 10 orang itu, untuk kembali mengembalikan sepakbola sebagai alat pemersatu bukan alat pemecah belah.
Arista budiyono
Sumber : Info Supporter

















Persikabo napa kLah Cie lawan PSLS gyMana Mu msuK liga BEsar.. saLam kaboMANIA C-D forever -apik
di bogoR Mate saTu suporter kabomania kaRna Ulah the jaK mania
kta nanti lawan PSAP harus ati”
karna DI bojong banyak the Jak mania..
Ue serius kga boongzz..
persikaBO urutan ke 12 coba bego kan tuh
malu-maluin kaboMania aja..
tapi Ue kga akan menyeraH kga akan takut the jak di depan Ue kan nyerang
para The jak Mania aNjenK…
-apik
-kiki
-erUll
-ega
-ucUp
-nana
-dago
ex=twodaR 421